MANUSIA PEMELIHARA ALAM

Standar

Salah satu penentu keberlangsungan hidup manusia di masa yang akan datang adalah persoalan lingkungan. Baik atau tidaknya kehidupan manusia, bahkan ada atau tidaknya manusia, tergantung dari bagaimana manusia bisa memecahkan masalah kerusakan lingkungan yang kian hari kian parah.

Saat ini isu kehidupan manusia yang semakin sulit karena kerusakan lingkungan bukan lagi diucapkan dengan kata ’seandainya’. Namun sudah dalam tahap menunggu, kapan dan seberapa besar bencana lingkungan itu akan terjadi. Para ahli menghitung, temperatur permukaan bumi mengalami peningkatan yang cukup signifikan selama satu abad yang lalu dan rata-rata peningkatan terbesar terjadi dalam duapuluh tahun terakhir ini. Peningkatan suhu permukaan bumi tersebut akibat dari tertahannya panas karena polusi udara atau yang biasa disebut dengan efek rumah kaca.

Meningkatnya suhu permukaan bumi [disebut juga global warming] menyebabkan lapisan es di kutub mencair. Akibatnya permukaan laut meninggi. British Antartic Survey bekerjasama dengan US. Geological Survey melakukan pengamatan terhadap lapisan es yang ada di bagian barat Antartika. Hasilnya, dalam jangka 50 tahun terakhir, lapisan es di wilayah tersebut menyusut sebesar 87 persen.

Berdasarkan laju penyusutan lapisan es itu, diperkirakan pada tahun 2100 nanti permukaan air laut secara global akan meningkat antara 19 sampai 95 cm. Padahal, peningkatan sebesar 1 meter akan menenggelamkan beberapa pulau di dunia, termasuk banyak pulau yang ada di Indonesia. Departemen Kelautan dan Perikanan [DKP] juga melakukan pemantauan. Hasil pantauan itu menunjukkan, rata-rata kenaikan permukaan air laut di wilayah Indonesia sebesar 5 sampai 10 milimeter per tahun. Memang, peningkatan itu relatif kecil jika dilihat per tahunnya, hanya dalam satuan milimeter saja. Namun, sungguh mengerikan apabila kita membayangkan apa yang terjadi pada sepuluh, duapuluh atau limapuluh tahun mendatang. Sebenarnya, tanpa melihat laporan pengamatan atau penelitian para ahli, kita sendiri bisa merasakan adanya perubahan iklim itu. Dahulu kita bisa dengan mudah menentukan kapan musim kemarau berakhir dan penghujan datang. Bulan-bulan tertentu bisa kita sebut musim kemarau dan bulan-bulan yang lain disebut musim penghujan. Sekarang, kemarau dan penghujan semakin sulit diprediksi.

Dampak dari perubahan iklim global juga sudah kita rasakan, tanpa harus menunggu dalam jangka waktu yang lama. Bencana banjir dan tanah longsor kian sering terjadi dan dalam tingkat resiko yang lebih tinggi. Para petani sudah kesulitan menentukan waktu yang tepat untuk bercocok tanam, karena musim kian sulit diprediksi. Badai terjadi di mana-mana, bahkan di wilayah-wilayah yang dulunya aman dari badai.

Melihat gejala-gejala alam yang sudah kita rasakan itu, kemungkinan besar prediksi para ahli lingkungan itu benar. Di masa mendatang, manusia akan mengalami kesulitan dengan kondisi alam yang tak lagi bersahabat. Bisa jadi, akibat kerusakan yang sangat parah, bumi tak lagi menjadi tempat yang layak bagi manusia untuk hidup dan berkembang. Sementara, belum ditemukan tempat lain seperti bumi. Langkah yang paling bijak adalah mengupayakan agar bumi dan alam yang melingkupinya kembali menjadi tempat yang nyaman dan layak untuk hidup.

 Pandangan Manusia terhadap Alam

Semakin kritisnya kondisi lingkungan hidup menimbulkan keprihatinan banyak pihak, tak hanya para ilmuwan dan pemerhati lingkungan saja, para filsuf dan agamawan pun ikut memikirkannya. Pembahasan mengerucut pada akar masalah kerusakan lingkungan yaitu manusia.

Usaha manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di satu sisi membawa manusia pada suatu era yang disebut modern, hidup manusia kian mudah, potensi yang ada di alam dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Di sisi yang lain, kemampuan manusia mengolah alam menempatkan dirinya sebagai pusat alam semesta [antroposentris].

Pandangan manusia terhadap alam berubah. Sebelum manusia mengenal ilmu pengetahuan modern, manusia menganggap bahwa alam memunyai kekuatan. Dikenallah dewa-dewa sebagai wujud kekuatan itu. Ada dewa penguasa langit, penguasa bumi, dewa kesuburan, dewa api, dan sebagainya. Dewa-dewa itu dipuja dengan upacara-upacara dan sesajen agar tak menurunkan murkanya.

Setelah kemampuan manusia berkembang dan berhasil menemukan karakter dan hukum-hukum alam, manusia menemukan egonya. Dirinyalah penguasa alam. Segala sesuatu yang ada di alam semesta adalah miliknya dan digunakan sepenuhnya untuk menunjang hidupnya. Sayangnya, yang muncul kemudian bukanlah kearifan memanfaatkan alam, tapi keserakahan karena nafsu.

Sebenarnya, saat itu sudah ada pemikiran untuk melestarikan alam. Salah satunya apa yang diungkapkan Immanuel Kant, filsuf asal Jerman. Dalam pandangan Kant, ada usaha manusia untuk melestarikan alam, namun usaha tersebut bukan dalam bentuk kewajiban. Bagi Kant, usaha melestarikan alam itu hanya dianggap sebagai tindakan yang indah karena bisa menimbulkan kesenangan, tanpa ada embel-embel keharusan untuk melaksanakan.

Pandangan manusia yang merasa dirinya sebagai penguasa alam membawanya pada kondisi kepanikan global karena kerusakan lingkungan. Dampak kerusakan lingkungan itu akhirnya membawa manusia pada suatu kesadaran bahwa hidup manusia tak kan lestari tanpa ada usaha melestarikan alam.

Muncullah teori-teori tentang kehidupan manusia dan kelestarian alam. Arne Naess, filsuf dari Norwegia dalam konsep yang disebutnya Ecosopy T mengatakan, ada tiga hal yang perlu manusia sadari dalam usahanya menyelamatkan alam dan lingkungan.

Pertama, manusia harus memandang alam sebagai bagian dari dirinya sehingga usaha memelihara alam berarti juga memelihara dirinya. Kedua, menyadari bahwa alam memunyai hak untuk ada dan lestari. Manusia tak memiliki wewenang sedikit pun untuk merusaknya. Ketiga, karena dua hal tersebut maka seberapa pun besarnya kebutuhan manusia untuk memanfaatkan alam, manusia harus bijak mengolahnya. Mengambil manfaat dari alam sekaligus mengupayakan kelestariannya.

Tuhan, Alam, dan Manusia

Dalam ajaran Islam, pandangan tentang Tuhan, Alam, dan Manusia memunyai keterkaitan yang sangat erat. Seorang Muslim menyakini, Allah lah pencipta alam semesta dan mengaturnya dengan keseimbangan. Keyakinan itu menciptakan kesadaran bahwa alam semesta merupakan sarana memahami keberadaan dan kebesaran Allah.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera-bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan [suburkan] bumi sesudah mati [kering]-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; [pada semua itu] sungguh terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berakal.”[QS al-Baqarah [2]: 164]. Sedangkan manusia diciptakan Allah sebagai khalifah di bumi,“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan satu khalifah di muka bumi.”[QS al-Baqarah [2]: 30].

Khalifah diartikan sebagai ‘yang menggantikan’ atau ‘yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya’. Namun khalifah tak dipahami bahwa Allah tak mampu sehingga Dia perlu menjadikan manusia sebagai penggantinya, juga bukan menjadikan manusia berkedudukan sebagai Tuhan di muka bumi. Khalifah menunjukkan arti bahwa manusia diciptakan untuk mengemban amanah, yaitu sebagai ‘yang menggantikan’ Allah, Tuhan Pemelihara alam semesta [Rabb al-’âlamî]. Tugas manusia adalah memelihara alam semesta, sebagaimana yang diamanahkan [sesuai dengan rencana] Allah. Karena itu hubungan antara manusia dan alam bukan dalam konteks menundukkan dan ditundukkan, tapi memelihara dan dipelihara.

Mengartikan khalifah dengan pemahaman seperti itu akan jauh dari pandangan bahwa manusia adalah penguasa alam, yang punya hak eksploitasi tanpa batas dan tanpa berpikir untuk melestarikannya.

Memang benar, Allah menciptakan segala yang ada di bumi untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun perlu disadari juga bahwa manusia yang dimaksud tak hanya manusia yang hidup pada zaman kita sekarang ini, anak-cucu kita yang hidup di masa yang akan datang pun juga manusia. Maka dari itu, sebagai khalifah-Nya, manusia memunyai kewajiban untuk memastikan bahwa apa yang ada di bumi juga bisa dinikmati seluruh manusia, baik yang hidup di zaman sekarang maupun di masa yang akan datang.

Iklan

LUPAKAN APA KATA MENTERI

Standar

Untuk yang sudah memilih hidupnya menjadi Dosen, atau Pendidik di rumah tangga …
Sebuah pencerahan untuk menjadi lebih baik
*WASIAT BERHARGA UNTUK DOSEN/GURU*

1. Hendaknya tidak mengambil cuti sakit ketika engkau tidak sakit, sehingga tidak menggabungkan dua maksiat : *_kebohongan dan makan harta haram._*

2. Terimalah murid² Anda dengan segala kesalahan mereka, karena mereka bukan malaikat, bukan pula syaitan.
Tidak ada alasan untuk lari dari meluruskan kesalahan² itu karena Anda adalah murabbi (pendidik).

3. Tunjukkan rasa hormat Anda kepada murid yang ada di hadapan Anda dengan cara menerangkan keutamaan mereka sebagai penuntut ilmu, karena akan mendekatkan jarak dalam menuju hati mereka.

4. Ingatlah bahwa banyak di antara orang² besar menjadi besar lantaran satu kata dari seorang guru yang melejitkan mereka dan memantik cita² mereka hingga menggapai puncak. Jadilah Anda pencetak orang² besar … !

5. Perbagus cara interaksi Anda dengan para murid.
Tinggalkan kesan yang baik pada diri mereka.
Berapa banyak guru yang mendapat doa dari murid setelah ber-tahun² terlewati, atau setelah berada di liang kubur.

6. Semua mata pelajaran dapat dikaitkan dengan ajaran² Agama. Tinggal bagaimana Anda mencari media yang tepat.

7. Setiap menit keterlambatan Anda dalam memulai pelajaran atau keluar sebelum waktu selesai, adalah hak murid, ia akan mengambilnya pada hari penghitungan amal.

8. Berapa banyak guru yang menjadi sebab lurusnya arah berpikir kaum muda sehingga ia mendapatkan doa² tulus dan kebaikan yang mengalir.

9. Di depan Anda ada generasi. Bangkitkan jiwa mereka, ajarkan cinta kepada ilmu, dan bangunkan semangat. Karena akan menjadi kebaikan untuk ummat.

10. Rasa takut murid Anda terhadap Anda bukanlah pertanda keberhasilan dan keterampilan Anda dalam menegakkan kedisiplinan.
Itu hanya pertanda bahwa Anda gagal dalam memerankan pendidikan.
Pendidikan itu membawa ketegasan dan kasih sayang bukan me-nakut²i.

11. Syekh Utsaimin rahimahulloh membedakan antara pulpen inventaris kantor dan pulpen pribadi, karena takut makan barang haram. Lantas bagaimana dengan orang yang menghalalkan sesuatu yang lebih berharga dari pada tinta ?
*Yaitu waktu!*

12. Ingatlah bahwa anda mempunyai anak yang diajar oleh guru² seperti Anda.
Maka berbuat baiklah kepada anak orang niscaya Allah akan menyiapkan bagi anak Anda, guru² yang akan berbuat baik kepada mereka. “Balasan sesuai dengan amal perbuatan.”

13. Ikhlaskan niat untuk Ibadah.
—-
_*Semoga jadi nasehat yang baik untuk para pejuang Pendidikan …*_

Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat

Standar

1- pd-t-05-2005-c-penyediaan-air-minum-berbasis-masyarakat-pam-bm-1-pedoman-umum 2- pd-t-06-2005-c-penyediaan-air-minum-berbasis-masyarakat-pam-bm-2-penyelenggaraan 3- pd-t-07-2005-c-penyediaan-air-minum-berbasis-masyarakat-pam-bm-3-kelembagaan 4- pd-t-08-2005-c-penyediaan-air-minum-berbasis-masyarakat-pam-bm-4-pembiayaan 5- pd-t-05-2005-c-penyediaan-air-minum-berbasis-masyarakat-pam-bm-1-pedoman-umum 6- pd-t-10-2005-c-penyediaan-air-minum-berbasis-masyarakat-pam-bm-6-pelaksanaan-pemantauan-dan-evaluasi